Mendidik
dengan Cinta
Sesekali
dalam kondisi tubuh yang segar cobalah duduk di kursi, merenung, dan memandang
anak-anak dengan penuh perhatian. Kemudian tanyakan pada diri sendiri, apa
sesungguhnya “sosok anak” menurut anda? Berikan gambaran atau deskripsi singkat
apa hakikat anak yang diamanahkan oleh
Allah ini.
Sudah
barang tentu akan ada banyak jawaban, gambaran, dan harapan yang terlintas pada
setiap orang tua terhadap anak-anaknya. Secara biologis anak adalah calon manusia
dewasa, secara sisilah anak adalah pelangsung kehidupan keluarga, dan secara
generatif anak adalah pemimpin dan pengawal peradaban masa depan. Boleh jadi,
dalam lingkup individu anak adalah tumpuan kasih sayang dan perawat orang
tatkala mencapai usia lanjut.
Begitu
besar harapan dan cita-cita yang dialamatkan kepada anak-anak, maka sudah
menjadi keawajiban orang tua dan para guru mendidik anak-anak dengan penuh
cinta, mendidiknya dengan segala kemampuan finansial dan membimbing dengan
segenap kemampuan intelektual yang kita miliki. Terlebih bila kita menyadari
bahwa anak-anak akan hidup di zaman yang berbeda dengan zaman kita saat ini,
mereka akan hidup pada zaman di mana godaan dan tantangan hidup akan lebih
kompleks.
Mendidik anak dengan penuh kasih sayang
dan cinta bukan
perkara mudah, dibutuhkan pengetahuan, kesabaran, konsistensi, dan
keberlanjutan yang dimulai sejak dini. Mendidik pada dasarnya merupakan
proses yang saling terkait antara: pembentukan kebiasaan yang baik, pengajaran dan pembelajaran, dan keteladanan yang dilakukan oleh pendidik.
Rasulullah
Muhammad SAW memperlakukan seorang anak adalah calon manusia dewasa yang telah
memiliki hati, perasaan, harga diri sebagaimana manusia dewasa, dan telah
memiliki hak-hak tertentu yang harus dipenuhi. Dalam satu riwayat disebutkan,
ketika ada anak seorang sahabat yang buang air kecil di gendongan Rasulullah,
lalu ibu anak tersebut membentak dan merenggutnya dengan kasar, Rasul menegur si
ibu dengan mengatakan bahwa air pipis bisa dicuci sedangkan sakit hati anak karena
renggutan kasar susah diobati.
Pembentukan karakter anak jelas dimulai sejak dari
rumah oleh orang tuanya. Orang tua yang selalu mendidik anak-anaknya dengan
rasa cinta dan kasih sayang akan membuat suasana belajar dalam rumah tangga
menjadi sangat menyenangkan bagi anak. Anak tidak pernah bosan untuk meyerap
setiap pelajaran yang diberikan. Karena tidak ada cara yang lebih baik untuk
menawan hati anak dan memenangkan kepercayaannya selain dari mengembangkan rasa
cinta dan kasih sayang oleh orang tuanya. Kebiasaan ini harus diterapkan ketika
anak melakukan kesalahan sekalipun.
Kebanyakan orang tua dan pendidik terlalu cepat
menempatkan anak sebagai pihak tertuduh salah ketika anak melakukan tindakan
yang salah. Vonis salah, sanksi dan hukuman langsung diberikan. Hal ini membuat
anak cenderung bersikap minder dan rendah diri, tetapi dalam waktu yang sama
menyimpan rasa dendam. Sikap yang perlu dikedepankan adalah berikan kesempatan
anak untuk membela diri, menjelaskan kejadian yang seberanya, menyampaikan
alasan-alasan apa sehingga tindakan itu dilakukan. Bila memang tenyata salah,
ditunjukkan kesalahannya baru diberikan sanksi sambil tetap menegaskan bahwa
kita bisa belajar dari kesalahan untuk tidak diulang kembali.
Memberikan pengertian dengan bahasa sederhana,
disertai sikap cinta, dan beradab akan membuat anak tumbuh menjadi anak yang
lembut dan penuh tanggungjawab. Anak akan mudah memahami lingkungannya dan enak
diajak berkomunikasi, sehinga pada akhirnya setelah dia dewasa kelak dia akan
tumbuh menjadi manusia yang keberadaanya diakui sebagai pemberi dan penebar
kasih sayang yang jadi panutan bagi sesamanya
Diantara pokok-pokok mendidik anak penuh rasa cita
adalah dengan memberi perhatian penuh pada anak-anak kita (termasuk
kebiasaan-kebiasan dan hal yang diminati), memperhatikan tata pergaulan dan
persoalan yang diskusikan dengan teman-teman, mengedepankan sikap fleksible dan
tidak terlalu menampakkan sikap protektif kepada anak, menemukan kemampuan dan
bakat anak dengan baik, membiasakan perinsip belajar bisa dimana saja dan kapan
saja sebab anak bisa belajar setiap hari dari kehidupan.
Begitu juga bagi para pendidik di sekolah dan lembaga
pendidikan diperlukan menjaga kesadaran bahwa dirinya sebagai pendidik. Kesadarn
inilah menjadi salah satu kunci tampilnya sikap penuh kasih sayang. Memang
tidak mudah untuk istiqamah bersikap demikian. Kadang-kadang dalam situasi
tertentu lantaran persoalan dan tugas-tugas lain pendidik lupa akan kedudukan
asasinya. Kasih sayang merupakan komponen dasar yang utama dalam proses
pendidikan dan pembentukan karakter atau akhlak anak. Seorang guru yang
memiliki rasa kasih sayang yang besar akan sangat mencintai profesinya
dibandingkan dengan seorang guru yang lebih berorientasi sekedar pemenuhan
kebutuhan materi. Mendidik dengan cinta
dan rasa kasih sayang akan membuat anak didik merasa betah dan lebih cepat
mengerti dan memahami pesan-pesan dan materi yang disampaikan kepadanya. Wallahu
a’lam.
Mutohharun Jinan, Alumnus program Doktor UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta, pengasuh Pondok Shabran Universitas Muhammadiyah Surakata
Tidak ada komentar:
Posting Komentar