Minggu, 08 Desember 2013

PEDULI GENERASI


Mendidik dengan Cinta

Sesekali dalam kondisi tubuh yang segar cobalah duduk di kursi, merenung, dan memandang anak-anak dengan penuh perhatian. Kemudian tanyakan pada diri sendiri, apa sesungguhnya “sosok anak” menurut anda? Berikan gambaran atau deskripsi singkat apa hakikat anak yang diamanahkan oleh Allah ini.
Sudah barang tentu akan ada banyak jawaban, gambaran, dan harapan yang terlintas pada setiap orang tua terhadap anak-anaknya. Secara biologis anak adalah calon manusia dewasa, secara sisilah anak adalah pelangsung kehidupan keluarga, dan secara generatif anak adalah pemimpin dan pengawal peradaban masa depan. Boleh jadi, dalam lingkup individu anak adalah tumpuan kasih sayang dan perawat orang tatkala mencapai usia lanjut.
Begitu besar harapan dan cita-cita yang dialamatkan kepada anak-anak, maka sudah menjadi keawajiban orang tua dan para guru mendidik anak-anak dengan penuh cinta, mendidiknya dengan segala kemampuan finansial dan membimbing dengan segenap kemampuan intelektual yang kita miliki. Terlebih bila kita menyadari bahwa anak-anak akan hidup di zaman yang berbeda dengan zaman kita saat ini, mereka akan hidup pada zaman di mana godaan dan tantangan hidup akan lebih kompleks.
Mendidik anak dengan penuh kasih sayang dan cinta bukan perkara mudah, dibutuhkan pengetahuan, kesabaran, konsistensi, dan keberlanjutan yang dimulai sejak dini. Mendidik pada dasarnya merupakan proses yang saling terkait antara: pembentukan kebiasaan yang baik, pengajaran dan pembelajaran, dan keteladanan yang dilakukan oleh pendidik.
Rasulullah Muhammad SAW memperlakukan seorang anak adalah calon manusia dewasa yang telah memiliki hati, perasaan, harga diri sebagaimana manusia dewasa, dan telah memiliki hak-hak tertentu yang harus dipenuhi. Dalam satu riwayat disebutkan, ketika ada anak seorang sahabat yang buang air kecil di gendongan Rasulullah, lalu ibu anak tersebut membentak dan merenggutnya dengan kasar, Rasul menegur si ibu dengan mengatakan bahwa air pipis bisa dicuci sedangkan sakit hati anak karena renggutan kasar susah diobati.
Pembentukan karakter anak jelas dimulai sejak dari rumah oleh orang tuanya. Orang tua yang selalu mendidik anak-anaknya dengan rasa cinta dan kasih sayang akan membuat suasana belajar dalam rumah tangga menjadi sangat menyenangkan bagi anak. Anak tidak pernah bosan untuk meyerap setiap pelajaran yang diberikan. Karena tidak ada cara yang lebih baik untuk menawan hati anak dan memenangkan kepercayaannya selain dari mengembangkan rasa cinta dan kasih sayang oleh orang tuanya. Kebiasaan ini harus diterapkan ketika anak melakukan kesalahan sekalipun.
Kebanyakan orang tua dan pendidik terlalu cepat menempatkan anak sebagai pihak tertuduh salah ketika anak melakukan tindakan yang salah. Vonis salah, sanksi dan hukuman langsung diberikan. Hal ini membuat anak cenderung bersikap minder dan rendah diri, tetapi dalam waktu yang sama menyimpan rasa dendam. Sikap yang perlu dikedepankan adalah berikan kesempatan anak untuk membela diri, menjelaskan kejadian yang seberanya, menyampaikan alasan-alasan apa sehingga tindakan itu dilakukan. Bila memang tenyata salah, ditunjukkan kesalahannya baru diberikan sanksi sambil tetap menegaskan bahwa kita bisa belajar dari kesalahan untuk tidak diulang kembali.
Memberikan pengertian dengan bahasa sederhana, disertai sikap cinta, dan beradab akan membuat anak tumbuh menjadi anak yang lembut dan penuh tanggungjawab. Anak akan mudah memahami lingkungannya dan enak diajak berkomunikasi, sehinga pada akhirnya setelah dia dewasa kelak dia akan tumbuh menjadi manusia yang keberadaanya diakui sebagai pemberi dan penebar kasih sayang yang jadi panutan bagi sesamanya
Diantara pokok-pokok mendidik anak penuh rasa cita adalah dengan memberi perhatian penuh pada anak-anak kita (termasuk kebiasaan-kebiasan dan hal yang diminati), memperhatikan tata pergaulan dan persoalan yang diskusikan dengan teman-teman, mengedepankan sikap fleksible dan tidak terlalu menampakkan sikap protektif kepada anak, menemukan kemampuan dan bakat anak dengan baik, membiasakan perinsip belajar bisa dimana saja dan kapan saja sebab anak bisa belajar setiap hari dari kehidupan.
Begitu juga bagi para pendidik di sekolah dan lembaga pendidikan diperlukan menjaga kesadaran bahwa dirinya sebagai pendidik. Kesadarn inilah menjadi salah satu kunci tampilnya sikap penuh kasih sayang. Memang tidak mudah untuk istiqamah bersikap demikian. Kadang-kadang dalam situasi tertentu lantaran persoalan dan tugas-tugas lain pendidik lupa akan kedudukan asasinya. Kasih sayang merupakan komponen dasar yang utama dalam proses pendidikan dan pembentukan karakter atau akhlak anak. Seorang guru yang memiliki rasa kasih sayang yang besar akan sangat mencintai profesinya dibandingkan dengan seorang guru yang lebih berorientasi sekedar pemenuhan kebutuhan materi. Mendidik  dengan cinta dan rasa kasih sayang akan membuat anak didik merasa betah dan lebih cepat mengerti dan memahami pesan-pesan dan materi yang disampaikan kepadanya. Wallahu a’lam.
Mutohharun Jinan, Alumnus program Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pengasuh Pondok Shabran Universitas Muhammadiyah Surakata

Tidak ada komentar: