Dakwah dan Media Sosial
Hidup di masyarakat berbasis teknologi
informasi seperti sekarang ini orang begitu mudah menebar kebajikan, namun juga
terbuka peluang menebar keburukan.
Tidak perlu biaya mahal dan mengeluarkan
banyak tenaga seseorang bisa mengajak saudara, kerabat, teman, dan kolega untuk
selalu berbuat kebaikan. Dengan sedikit pulsa yang masih tersisa di telepon
seluler, satu untaian kalimat mutiara yang isnpiratif atau terjemahan ayat
Alquran yang memuat seruang kebajikan bisa tersebar ke ratusan teman.
Banyaknya pilihan media sosial seperti web,
youtube, blog, facebook, BBM, dan WatsApp memudahkan sekelompok orang, baik
yang berdekatan maupun yang berjauhan, berjamaah dalam satu goup. Dalam grup yang sudah terbentuk setiap
anggota bisa saling bersilaturrahim, berbagi kabar kesuksesan, saling
menasehati, dan lain-lain. Cukup dengan
menuliskan atau update status sekali saja sudah tersebar dan dapat
dibaca oleh banyak orang pada saat itu juga.
Begitulah teknologi informasi
menfasilitasi setiap orang untuk memaksimalkan potensinya memberi manfaat
kepada orang lain. Namun sayangnya, peluang dan kemudahan itu jarang
dimanfaatkan. Malahan, sebaliknya tidak sedikit orang yang justru menebar
keburukan, menfitnah, mencaci maki, dan merendahkan martabat orang lain melalui
media sosial.
Media sosial yang mempunyai
karakter berjangkau luas, bebas, cepat, akseleratif, tanpa gatekeeper, dan interaktif sering
dijadikan arena untuk menghasut, propaganda, menebar kebencian, dan tindakan
buruk lainnya. Pendek kata, orang begitu bebas melakukan kebaikan dan keburukan
melalui media sosial.
Dalam situasi yang sebas bebas berkicau
itulah diperlukan sifat integritas dan amanah. Integritas merupakan sikap yang
selalu menjaga kesesuaian antara pernyataan dengan fakta-fakta yang
sesungguhnya terjadi. Sedangkan amanah diperlukan untuk mendidik masyarakat
pengguna (user) bertanggung jawab atas segala ungkapan isi hati dan
pikirannya di hadapan publik.
Pada hakekatnya manusia diberi kuasa oleh
Allah untuk memilih dan melakukan perbuatan yang dinginkan dengan catatan
sanggup menanggung segala risiko, termasuk risiko di akherat kelak. Maknanya
adalah, kebebasan dan tanggung jawab ibarat dua sisi pada satu koin, keduanya
harus saling beriringan.
Setiap orang harus terbiasa dan dididik
untuk selalu bertanggung jawab atas apa yang ditulis dan dibagikan kepada
khalayak melalui media sosialnya. Setiap user dituntut untuk sadar betul atas
isi dan dampak yang muncul dari pernyataan yang dipublikasikan. Bila ternyata
pernyataannya membuat orang lain tersudut, user harus siap memberikan
penjelasan dan mempertanggung jawabkan.
Kesan yang tampak saat ini adalah dengan
media sosial yang ada setiap orang sangat termanjakan, leluasa berekspresi,
bebas untuk menumpahkan segala isi hati. Namun tidak diimbangi dengan semangat responsbilitas
yang memadai di depan publik.
Terlebih, di kalangan remaja dan
anak-anak, mereka sudah sangat familiar dengan sarana teknologi informasi dan
media sosial, namun belum banyak tahu tentang pertanggung jawaban. Bukankah
dalam QS. Al-Isra/17: 36, Allah akan menanyakan atas segala perbuatan yang
dilakukan oleh mata, telinga, hati dan pikiran kita?
Mutohharun Jinan, pengajar di Fakultas Agama Islam Universitas
Muhammadiyagah Surakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar