Rabu, 18 Maret 2015

MEDIA SOSIAL



Dakwah dan Media Sosial

Hidup di masyarakat berbasis teknologi informasi seperti sekarang ini orang begitu mudah menebar kebajikan, namun juga terbuka peluang menebar keburukan.
Tidak perlu biaya mahal dan mengeluarkan banyak tenaga seseorang bisa mengajak saudara, kerabat, teman, dan kolega untuk selalu berbuat kebaikan. Dengan sedikit pulsa yang masih tersisa di telepon seluler, satu untaian kalimat mutiara yang isnpiratif atau terjemahan ayat Alquran yang memuat seruang kebajikan bisa tersebar ke ratusan teman.
Banyaknya pilihan media sosial seperti web, youtube, blog, facebook, BBM, dan WatsApp memudahkan sekelompok orang, baik yang berdekatan maupun yang berjauhan, berjamaah dalam  satu goup. Dalam grup yang sudah terbentuk setiap anggota bisa saling bersilaturrahim, berbagi kabar kesuksesan, saling menasehati, dan lain-lain. Cukup  dengan menuliskan atau update status sekali saja sudah tersebar dan dapat dibaca oleh banyak orang pada saat itu juga. 


Begitulah teknologi informasi menfasilitasi setiap orang untuk memaksimalkan potensinya memberi manfaat kepada orang lain. Namun sayangnya, peluang dan kemudahan itu jarang dimanfaatkan. Malahan, sebaliknya tidak sedikit orang yang justru menebar keburukan, menfitnah, mencaci maki, dan merendahkan martabat orang lain melalui media sosial.
Media sosial yang mempunyai karakter berjangkau luas, bebas, cepat, akseleratif, tanpa gatekeeper, dan interaktif sering dijadikan arena untuk menghasut, propaganda, menebar kebencian, dan tindakan buruk lainnya. Pendek kata, orang begitu bebas melakukan kebaikan dan keburukan melalui media sosial.
Dalam situasi yang sebas bebas berkicau itulah diperlukan sifat integritas dan amanah. Integritas merupakan sikap yang selalu menjaga kesesuaian antara pernyataan dengan fakta-fakta yang sesungguhnya terjadi. Sedangkan amanah diperlukan untuk mendidik masyarakat pengguna (user) bertanggung jawab atas segala ungkapan isi hati dan pikirannya di hadapan publik.
Pada hakekatnya manusia diberi kuasa oleh Allah untuk memilih dan melakukan perbuatan yang dinginkan dengan catatan sanggup menanggung segala risiko, termasuk risiko di akherat kelak. Maknanya adalah, kebebasan dan tanggung jawab ibarat dua sisi pada satu koin, keduanya harus saling beriringan.
Setiap orang harus terbiasa dan dididik untuk selalu bertanggung jawab atas apa yang ditulis dan dibagikan kepada khalayak melalui media sosialnya. Setiap user dituntut untuk sadar betul atas isi dan dampak yang muncul dari pernyataan yang dipublikasikan. Bila ternyata pernyataannya membuat orang lain tersudut, user harus siap memberikan penjelasan dan mempertanggung jawabkan. 
Kesan yang tampak saat ini adalah dengan media sosial yang ada setiap orang sangat termanjakan, leluasa berekspresi, bebas untuk menumpahkan segala isi hati. Namun tidak diimbangi dengan semangat responsbilitas yang memadai di depan publik.
Terlebih, di kalangan remaja dan anak-anak, mereka sudah sangat familiar dengan sarana teknologi informasi dan media sosial, namun belum banyak tahu tentang pertanggung jawaban. Bukankah dalam QS. Al-Isra/17: 36, Allah akan menanyakan atas segala perbuatan yang dilakukan oleh mata, telinga, hati dan pikiran kita?
Mutohharun Jinan, pengajar di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyagah Surakarta

Tidak ada komentar: