Rabu, 23 Mei 2012

Islam dan Nasionalisme


Spirit Islam dan Kebangsaan HOS Cokroaminoto

Haji Oemar Said Cokroamnito, tokoh ini hampir pasti disebut oleh setiap orang yang menelaah geneologi tokoh-tokoh pergerakan (keagamaan dan nasionalis) Indonesia. Perannya dalam mendidik generasi bisa dikatakan tuntas dan lengkap dengan melahirkan tiga aras pergerakan ideologis di Indonesia: komunisme, nasionalisme, dan islamisme.
Cokroaminoto banyak melakukan pengkaderan terhadap generasi, sehingga muncullah nama-nama tokoh seperti Soekarno (berhaluan nasionalis), Muso dan Alimin (berhaluan komunis), Kartosuwiryo (berhaluan Islamis). Pada perkembangan selanjutnya Semaun dan Muso menjadi otak dari pemberontakan PKI di Madiun dan Kartosuwiryo menjadi pelopor gerakan DI/TII yang ingin membentuk Negara Islam Indonesia. Tidak ketinggalan ketika belakangan ini wacana gerakan NII mencuat ke permukaan dengan tokoh legendaris SM Kartosuwirjo, sekali lagi Cokroaminoto ditempatkan sebagai pangkal ideologis, lantaran Cokroaminoto pernah sebagai mentor pendiri DI/NII itu.
Bagi kalangan pergerakan Islam Cokroaminoto sering kali dijadikan rujukan guna menguatkan gerakan-gerakan ideologi politik-keagamaan di Indonesia. Memang sejarah tokoh kelahiran Madiun pada 16 Agutus 1882 ini adalah sejarah pergerakan Islam itu sendiri, mulai dari keterlibatannya di Serikat Dagang Islam, Serikat Islam, dan Central Serikat Islam, dan akhirnya Partai Serikat Islam Indonesia.
Sejatinya, bila meminjam kategori Geertz, latar belakang Cokroaminoto lebih dekat dengan kategori priyayi. Ia adalah anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah bernama R.M. Cokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintahan pada saat itu. Kakeknya, R.M. Adipati Cokronegoro, pernah juga menjabat sebagai bupati Ponorogo. Latar belakang pendidikannya juga bukan dari pesantren atau berguru pada ulama tertentu tetapi dari Opleiding School Voor Inlandsche Amternaren (OSVIA).
Setelah menamatkan studi di (OSVIA), sekolah pegawai admisitrasi pemerintahan Magelang, ia mengikuti jejak kepriyayian ayahnya sebagai pegawai pangreh praja walaupun akhirnya ia tinggalkan karena tidak suka dengan kebiasaan sembah jongkok yang baginya sangat melecehkan. Tahun 1905 Cokroaminoto pindah ke Surabaya dan bekerja pada perusahaan dagang, di samping ia juga belajar di sekolah malam Hogore Burger School. Bersama istrinya, Suharsikin, menjadikan sebagian rumahnya untuk kos bagi pelajar, yang nantinya melalui rumah inilah Cokroaminoto menyalurkan ilmunya dalam agama, politik dan berorasi yang menjadi cikal bakal pembentukan tokoh-tokoh penting di Indonesia.
Dengan latar belakang priyayi (bangsawan) seharusnya ia memiliki orientasi gerakan sama dengan gerakan nasionalis –eksklusif- seperti Budi Utomo (1908). Namun tidak demikian dengan apa yang dipikirkan oleh Cokroaminoto. Menurut catatan Ahmad Mansur Suryanegara, Cokroaminoto memilih bergabung dengan SDI, pergerakan Cokroaminoto muda lebih dominan dialiri darah santri dari buyutnya Kiai Bagus Kasan Besari seorang ulama dengan visi kerakyatan yang kental dan sepanjang hidupnya memperjuangkan tegaknya ajaran Islam di Madiun Jawa Timur. Karena itu visi gerakan Cokroaminoto adalah Islam dan kerakyatan. Dialah tokoh politik yang berhasil menggabungkan retorika politik melawan penjajah Belanda dengan ideologi Islam hingga mengenyahkan penjajah dari Bumi Nusantara (Suryanegara, 1995: 190).
Ia memilih Sarekat Dagang Islam (SDI) yang saat itu dipimpin oleh H.Samanhudi di Solo, sebuah pergerakan pertama Indonesia yang menggelorakan semangat kemerdekaan, nasionalisme, ekonomi dan keagamaan. Keterlibatannya di SDI menjadi tonggak penting bagi kebangkitan fenomenal gerakan ini. SDI berubah menjadi sebuah organisasi yang besar dan menakutkan bagi kolonial. Kemahirannya serta kepiawaiannya berpolitik dalam menyuarakan kemerdekaan Indonesia dan memihak kepentingan rakyat membuat SDI begitu diminati rakyat pribumi baik dari kalangan menengah maupun rakyat jelata. Terlebih setelah SDI berubah menjadi Serikat Islam (Noer, 1988: 121).
Dibawah kepemimpinan Cokroaminoto SI menjadi tenda besar bagi cita-cita rakyat kalangan menengah seperti para saudagar, dokter, guru, dan priyayi. Tentu saja pengikut terbanyak adalah dari kalangan rakyat desa yang sangat membutuhkan sosok pemimpin massa yang kharismatik. Bahkan rakyat pedesaan menganggapnya sebagai Ratu Adil, anggapan yang ditolak dengan tegas oleh Cokroaminoto karena bertentangan dengan aqidah Islam. Begitu juga Cokroaminoto mendapat dukungan dari kelompok santri, sebagai dampak dari gelombang revitalasi Islam pada abad 19. Mobilisasi umat Islam dalam beribadah haji turut mempengaruhi geliat gerakan Islam di Tanah Air (Azra, 2002: 216).
Sebagaimana disebutkan, visi kerakyatan dan keislaman menjadi spirit utama gerakan Cokroaminoto. Ia juga membenarkan garis dasar perjuangan perubahan sosial ekonomi yang diletakkan oleh Samanhudi dengan berpijak pada Islam. Rakyat yang tertindas oleh penjajah kolonial Belanda secara ekonomi dan politik telah mengusik pemikiran dan hatinya. Cokroaminoto menyuarakan kegundahan hatinya melalui statemen, “Negara dan bangsa kita tidak akan mencapai kehidupan yang adil dan makmur, pergaulan hidup yang aman dan tenteram selama ajaran-ajaran Islam belum dapat berlaku atau dilakukan menjadi hukum dalam negara kita, sekalipun sudah merdeka.”(Amelz, 1952: 128)
Orientasi kepada pembelaan rakyat merupakan hasil dari pembacaan realitas saat itu bahwa rakyat adalah Islam dan Islam adalah rakyat. Rakyat hanya mempunyai satu pengertian istilah yakni Islam. Penggunaan kata diluar Islam dirasakan kurang komunikatif. Rakyat di desa pada saat kepemimpinan Cokroaminoto tidak mengenal istilah Tanah Air dan kesatuan negara. Mereka hanya mengetahui satu identitas bahwa dirinya muslim, sebagaimana yang dijumpai di tempat-tempat publik semuanya muslim. Oleh karena itu, Cokroaminoto membangkitkan kesadaran nasional melalui kesamaan iman/Islam rakyat.
Bagi rakyat pengertian pribumi, Jawa, Melayu, Sunda, dan lain-lainnya adalah Islam. Sementara Kristen disamakan dengan Eropa. Sistem segragasi identitas ini juga menjadi kebijakan Belanda, sekaligus menyuburkan keyakinan rakyat, Islam berarti anti penjajahan Belanda. Kondisi yang demikian itu dimanfaat Cokroaminoto untuk memperjuangkan rakyat dengan sentimen Islam yang merakyat, dan bukan dengan gerakan Budi Utomo yang cenderung eksklusif. Namun demikian, sekalipun Islam dijadikan landasan perjuangannya Cokroaminoto tidak pernah menggariskan sikap bangsa Indonesia harus anti-Kristen. Kepemimpinannya secara eksplisit tidak memprogramkan gerakan anti-Kristen dan anti-china tetapi mengajak rakyat untuk berrevolusi terhadap pemerintahan yang tiranik dan zalim (Suryanegara, 1995: 192).
Cokroaminoto akhirnya dikenal sebagai salah satu pahlawan pergenakan nasional yang berbasiskan perdagangan, agama, dan politik nasionalis. Kata-kata mutiaranya yang masyhur dan inspiratif “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat” akhirnya menjadi embrio pergerakan para tokoh pergerakan nasional yang patriotik, dan ia menjadi salah satu tokoh yang berhasil membuktikan besarnya kekuatan agama, politik dan perdagangan Indonesia untuk melawan segala bentuk penjajahan. Kata mutiara itu menggambarkan suasana perjuangan Indonesia yang saat itu membutuhkan tiga jiwa dan kemampuan pada diri seseorang untuk mempertahankan dan membangun negaranya Indonesia.
Dengan mengikuti landasan berfikir dan gerakan Cokroaminoto teramat mudah mengatakan bahwa begitu besar peran intelektual muslim dalam setiap langkah bangsa ini menorehkan sejarah perjuangannya. Tokoh muslim yang wafat pada 17 Desember 1934 ini menjadi penting karena menggulirkan momentum perubahan pemikiran dan gerakan dalam Islam sekaligus kebangsaan. Ia telah meletakkan dasar-dasar perubahan dalam gerakan Islam, sosial, dan politik menuju Indonesia yang bebas dari penindasan penjajah.
Mutohharun Jinan, pengajar Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tidak ada komentar: