Rabu, 09 Mei 2012

Santun Berkendara


Santun berkendara

Hampir tiap hari tersiar berita kecelakaan lalu lintas yang menelan korban jiwa tidak sedikit. Merujuk data yang dirilis Mabes Polri menunjukkan, tahun lalu terjadi 106.129 kecelakaan, dengan korban tewas 30.629 orang dan kerugian material mencapai Rp 278,4 miliar. Jadi, di Indonesia setiap hari rata-rata 84 orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Data itu menunjukkan betapa jalan raya masih menjadi tempat sangat rawan bagi kelangsungan hidup manusia. Nyaris tanpa perdebatan, bahwa lakalantas terjadi lebih banyak disebabkan karena faktor manusia yang lalai, baik lalai dalam berkendara maupun lalai dalam menyediakan infrastruktur yang layak.
Kecelakaan bermula dari kecerobohan orang berlalu lintas, seperti kebiasaan menerobos rambu-rambu, menggunakan jalur yang salah, tidak sabar, dan ingin cepat sampai tujuan, tidak menghargai pengguna jalan. Bahkan ada yang sengaja mencelakakan orang lain dengan menyebar paku di jalan.
Islam menganjurkan supaya menghargai sesama pengguna jalan dan mentaati peraturan-peraturan dalam berkendara. Antara lain, mendahulukan pejalan kaki, tidak mengganggu orang lewat, menyingkirkan duri (hambatan) dari jalan supaya orang tidak tertimpa celaka. Berkendara harus tetap dalam kesadaran bahwa kemampuan bekendara merupakan bagian dari nikmat Allah yang harus disykuri (QS. Az-Zukhruf : 12-13 ).
Terdapat prinsip-prinsip dasar dalam Islam yang apabila ditaati akan menimbulkan sikap dan perilaku yang santun dalam berlalu-lintas.
Dikisahkan, suatu ketika Ali Bin Abi Thalib berjalan hendak menuju ke masjid, dilihatnya seorang yang tua yang berjalan tertatih-tatih menuju tempat yang sama. Lalu Ali membantu dan mempersilakan orang tersebut lebih dahulu memasuki masjid. Atas perbuatan itu, Ali mendapat pujian dari Nabi Muhammad dan mengatakan bahwa ia telah berlaku santun di jalan.
Sementara itu, dalam Al-qur’an disebutkan “Dan janganlah engkau memalingkan pipimu dari manusia dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Luqman/31: 18).
Perilaku ugal-ugalan saat berkendara merupakan salah satu bentuk kesombongan dan sikap tak acuh terhadap pengguna jalan yang lain. Memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi dengan tujuan agar cepat sampai ke tujuan adalah sikap mementingkan diri sendiri. Tak peduli apakah dengan perilakunya itu ia mendatangkan celaka bagi orang lain, bahkan dirinya sendiri. Perilaku-perilaku demikian tak sesuai dengan semangat yang disampaikan dalam ayat tersebut.
Padatnya lalu lintas di jalan raya menuntut pengguna jalan untuk sabar, santun, dan menaati rambu-rambu yang ada. Sabar, santun, dan tak tergesa-gesa merupakan sifat mulia yang diajarkan Rasulullah Saw. Beliau bersabda, “Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua sifat yang dicintai Allah, yaitu sabar dan tidak tergesa-gesa” (HR. Bukhari). Sedangkan dalam hadis lain disebutkan “Sikap berhati-hati itu berasal dari Allah dan tergesa-gesa berasal dari setan”(HR.Malik).
Bahkan Islam mengajarkan sikap santun di jalan tidak hanya kepada sesama manusia, kepada binatang pun harus diberi kesempatan untuk menyelematkan diri agar tidak terlindas oleh kendaraan yang kita kendarai, sebagaimana sikap Nabi Sulaiman kepada semut yang hendak menyingkir supaya tidak terinjak. (QS. An-Naml: 18-19). Mutohharun Jinan (Solopos, 4/5/2012)

Tidak ada komentar: