MEMPERBANYAK KAWAN
Judul tulisan ini diambil dari salah butir yang
termaktub dalam Rumusan Kepribadian Muhammadiyah sub bagian Sifat Muhammadiyah,
yaitu “memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah Islamiyah”. Kristalisasi
pemikiran setengah abad lalu itu, tepatnya hasil keputusan Muktamar
ke 35 tahun 1962 di Jakarta, tetap mengandung makna
kontekstual sepanjang zaman. Maksudnya, seruan agar kita memperbanyak kawan
adalah seruan abadi untuk waktu yang tidak terbatas dan dalam situasi sosial
apapun, lebih-lebih pada zaman di mana media sosial menjadi ruh komunikasi
seperti sekarang ini.
Perkembangan media sosial, seperti facebook, twitter,
blog, web, dan perangkat berjejaring lainnya tentu saja mengandung
kelebihan-kelebihan dalam hal mempercepat komunikasi. Namun dalam waktu yang
bersamaan juga muncul gejala sebaliknya. Kencederungan
individuasi dalam kehidupan masyarakat saat ini tampak kian menguat. Teknologi komunikasi, selain memperlebar
jejaring sosial juga turut menguatkan proses hidup individuasi.
Cobalah
perhatikan, betapa minimnya orang saling menyapa ketika mereka bersama-sama di area publik. Di tempat duduk yang
berdekatan seperti pada saat antri di ruang tunggu, dalam kereta, di bandara, bus, dan tempat-tempat publik lainnya terkesan kering
dari suasana dialogis. Meskipun banyak orang tampak bersama-sama, duduk
berhadapan, duduk berjajar dalam satu kursi jarang terjadi komunikasi di antara mereka.
Kebanyakan
orang lebih suka mendengarkan musik dengan headset atau memainkan ponsel,
sms-an, bbm, dan chatting dengan kawannya yang jauh entah dimana dari
pada pada mengenal orang yang ada di hadapannya. Sehingga muncul anggapan di era media sosial yang
berjejaring ini terjadi paradoks dalam
hubungan sosial, yaitu menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh.
Seruan memperbanyak kawan jelas sangat penting dalam masyarakat
yang paradoks seperti saat ini. Kepentingan kita terhadap perangkat teknologi
berjejaring harus diletakkan dalam konteks memperbanyak kawan. Media sosial
dapat mempermudah perkawanan, menguatkan silaturrahim, dan dapat menyambung
kembali hubungan yang lama terputus karena jarak yang jauh. Media sosial untuk
melekatkan komunikasi orang-orang yang dekat, bukan mengabaikan orang lain yang
ada di hadapan kita.
Rasulullah mengingatkan agar kita memperhatikan
orang-orang terdekat atau tetangga
dekat. Bahwa orang atau tetangga yang
paling dekat letak rumahnya memiliki hak yang lebih besar daripada tetangga
yang jauh letak rumahnya. Dari ‘Aisyah, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kau
memiliki dua tetangga, kepada tetangga mana aku harus memberikan hadiah?” Beliau menjawab,“Kepada
yang paling dekat pintu rumahnya.” (HR. Bukhari).
Hal penting yang perlu diperhatikan dalam upaya
memperbanyak kawan adalah betapapun media sosial dapat menghubungkan kembali pertemanan
dari tempat yang jauh, tuntunan Islam tentang silaturrahim dalam arti bertemu,
bertatap muka, berjabat tangan, berkunjung ke rumah tetap lebih utama dari pada
komunikasi virtual. Gerak tubuh, senyum simpul, gestur tubuh saat
bersilaturrahim menggugah kesan tersendiri yang tidak tergantikan oleh perangkat
teknologi. Dalam hal ini, Rasulullah saw mengingatkan, “Jangan sepelekan kebaikan sekecil apapun, meski
hanya dengan menjumpai saudaramu dengan wajah berseri-seri.” (HR. Muslim dan Tirmidzi).
Sudah menjadi bagian dari fitrahnya, orang akan merasa
lebih senang dengan banyak kawan agar dapat saling membantu antar sesama kawan.
Salah satu kunci sukses dalam hidup adalah
banyak teman, begitu kata para
motivator. Menjalin perkawanan dinilai sebagai
kunci untuk mendapatkan rizki dan umur panjang. Orang yang banyak teman, maka
pintu-pintu usaha dan kerja sama terbuka
lebar.
Dengan banyak teman, maka kemana saja,
ada orang yang mau diajak berbicara, bersenda gurau,
diskusi, dan bahkan mencurahkan keluh
kesah hati dan beban hidup yang dihadapi. Ketika apa yang dirasakan sebagai persoalan dan beban hidup telah disampaikan
kepada orang lain, maka beban itu akan terasa
berkurang seolah kawannya turut menanggung dan menyelesaikan masalanya.
Sehingga tubuh menjadi sehat, dan umurnya menjadi bertambah panjang.
Namun Islam juga memberi ketentuan dalam membangun
pertemanan, antara lain anjuran memilih kawan yang dapat mengarahkan dan
diarahkan ke jalan kebaikan. Sebab tabiat seseorang tidak jarang dipegaruhi
oleh kebiasaan kawannya. Rasulullah bersabda, “Seseorang itu tergantung
agama temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa
temannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Sudah banyak kasus orang yang salah
arah memproyeksikan hidupnya dan menemui celaka lantaran tidak selektif memilih
kawan.
(Suara Muhammadiyah, 1-15 Pebruari 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar