Rabu, 05 November 2014

KEBENARAN DAN KEARIFAN



Kebenaran dan Kearifan
 
Ragam ekspresi keberagamaan telah menjadi bagian penting sejarah perjalanan Islam. Sebagian dari keragaman memperkaya khazanah dan memungkinkan Islam berkembang ke berbagai wilayah dengan konteks budaya yang berbeda-beda. Lebih khusus dalam bidang fikih, ragam pemahaman yang dinisbahkan kepada para ulama terdahulu justru menjadi pilihan bagi kaum muslim di kemudian hari dalam mengamalkan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam.


Memang, sulit dipungkiri adanya fakta keras dalam pengalaman kaum muslim, bahwa perbedaan ekspresi keagamaan (baca: kelompok keagamaan) juga pernah menjadi catatan kelam lantaran berujung pada aksi kekerasan, bahkan sampai pada tingkat saling bunuh. Hal ini tentu harus dibuang jauh dari kesadaran dan seharusnya tidak diberi ruang dalam pentas keberagamaan saat ini.
Semua kelompok keagamaan dalam melakukan gerakan boleh jadi memiliki basis yang tidak jauh berbeda, yaitu berpijak pada keharusan kaum muslim menebarkan kebenaran dan kebaikan. Begitu juga semua kelompok itu bermuara pada tujuan yang sama, yaitu sampainya pesan-pesan Islam dalam segenap sisi kehidupan.
Hanya saja ada hal-hal yang berbeda dalam cara mencapai tujuan itu, sebagian ada yang sangat peka terhadap dampak yang akan timbul dari tindakanya, sebagian lain kurang memperhatikan asal kebenaran terlaksanakan. Sesuatu yang benar dan baik harus disampaikan dengan cara yang benar dan baik pula. Dengan kata lain, kebenaran dan kearifan merupakan dua hal yang menyatu, lebih-lebih berhubungan dengan ekspresi keagamaan yang melibatkan banyak aspek kehidupan.
Ada kisah menarik tentang kebenaran dan kearifan. Alkisah seorang raja tampak galau dan berwajah murung merenungkan mimpinya yang datang tiga malam berturut-turut. Dalam mimpinya, raja melihat semua tanaman hias di istana tiba-tiba mati. Kemudian raja memanggil tiga orang ahli untuk memberi penjelasan makna mimpinya itu.
Orang pertama menyampaikan takwil, bahwa raja akan ditinggalkan orang-orang yang sangat mencintainya. Raja menolak takwil yang menyakitkan ini karena ia merasa semua orang terkdekatnya sangat taat dan loyal dengan kebijakan kerajaan. Orang kedua mengatakan, raja akan kehilangan sebagian anggota keluarga dan sejumlah kerabat kerajaan yang sangat dicintai. Takwil ini juga ditentang oleh raja karena ia telah melakukan pengawalan terbaik kepada sanak kerabatnya. Karena mengecewakan kedua orang ini dipenjarakan. Orang ketiga mengatakan, bahwa mimpi itu merupakan isyarat raja akan memerintah lebih lama dan diberi usia yang lebih panjang dari pada saudara dan orang-orang terdekatnya. Raja sangat terkesan dengan takwil ini, terdengar lebih menggembirakan dan raja berkenan, lalu memberi sejumlah hadiah kepadanya.
 Selang beberapa hari raja dikejutkan dan sekaligus disadarkan, sejumlah kerabat raja meninggal dunia karena kereta yang dikendarai mengalami kecelakaan. Secara substansial ketiga orang ahli takwil mimpi tidak ada perbedaan dalam menakwil mimpi sang raja dan berusaha menyampaikan kebenaran yang mereka yakini. Namun mereka berbeda dalam memilih bahasa dan cara menyampaikan.
Dalam kehidupan sehari-hari pesan dari kisah ini sangat penting diperhatikan. Semua orang atau kelompok setuju, sesuatu yang benar dan baik harus diupayakan agar muncul di tengah-tengah masyarakat sehingga dapat menggantikan yang batil. Berbagai cara dan metode diupayakan untuk dipilih yang terbaik (QS. An-Nahl/16: 125). Memilih cara dan metode terbaik dan terorganisir dengan harapan agar dampak destruktif dapat terhindarkan.
Mutohharun Jinan, pengajar di Pondok Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta.

 

Tidak ada komentar: