Kebenaran dan Kearifan
Ragam ekspresi keberagamaan telah menjadi bagian penting sejarah
perjalanan Islam. Sebagian dari keragaman memperkaya khazanah dan memungkinkan
Islam berkembang ke berbagai wilayah dengan konteks budaya yang berbeda-beda.
Lebih khusus dalam bidang fikih, ragam pemahaman yang dinisbahkan kepada para
ulama terdahulu justru menjadi pilihan bagi kaum muslim di kemudian hari dalam
mengamalkan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam.
Memang, sulit dipungkiri adanya fakta keras dalam pengalaman kaum
muslim, bahwa perbedaan ekspresi keagamaan (baca: kelompok keagamaan) juga
pernah menjadi catatan kelam lantaran berujung pada aksi kekerasan, bahkan
sampai pada tingkat saling bunuh. Hal ini tentu harus dibuang jauh dari kesadaran
dan seharusnya tidak diberi ruang dalam pentas keberagamaan saat ini.
Semua kelompok keagamaan dalam melakukan gerakan boleh jadi
memiliki basis yang tidak jauh berbeda, yaitu berpijak pada keharusan kaum
muslim menebarkan kebenaran dan kebaikan. Begitu juga semua kelompok itu bermuara
pada tujuan yang sama, yaitu sampainya pesan-pesan Islam dalam segenap sisi
kehidupan.
Hanya saja ada hal-hal yang berbeda dalam cara mencapai tujuan itu,
sebagian ada yang sangat peka terhadap dampak yang akan timbul dari tindakanya,
sebagian lain kurang memperhatikan asal kebenaran terlaksanakan. Sesuatu yang
benar dan baik harus disampaikan dengan cara yang benar dan baik pula. Dengan
kata lain, kebenaran dan kearifan merupakan dua hal yang menyatu, lebih-lebih berhubungan
dengan ekspresi keagamaan yang melibatkan banyak aspek kehidupan.
Ada kisah menarik tentang kebenaran dan kearifan. Alkisah seorang
raja tampak galau dan berwajah murung merenungkan mimpinya yang datang tiga
malam berturut-turut. Dalam mimpinya, raja melihat semua tanaman hias di istana
tiba-tiba mati. Kemudian raja memanggil tiga orang ahli untuk memberi
penjelasan makna mimpinya itu.
Orang pertama menyampaikan takwil, bahwa raja akan ditinggalkan orang-orang
yang sangat mencintainya. Raja menolak takwil yang menyakitkan ini karena ia
merasa semua orang terkdekatnya sangat taat dan loyal dengan kebijakan
kerajaan. Orang kedua mengatakan, raja akan kehilangan sebagian anggota
keluarga dan sejumlah kerabat kerajaan yang sangat dicintai. Takwil ini juga
ditentang oleh raja karena ia telah melakukan pengawalan terbaik kepada sanak
kerabatnya. Karena mengecewakan kedua orang ini dipenjarakan. Orang ketiga
mengatakan, bahwa mimpi itu merupakan isyarat raja akan memerintah lebih lama
dan diberi usia yang lebih panjang dari pada saudara dan orang-orang
terdekatnya. Raja sangat terkesan dengan takwil ini, terdengar lebih
menggembirakan dan raja berkenan, lalu memberi sejumlah hadiah kepadanya.
Selang beberapa hari raja
dikejutkan dan sekaligus disadarkan, sejumlah kerabat raja meninggal dunia
karena kereta yang dikendarai mengalami kecelakaan. Secara substansial ketiga
orang ahli takwil mimpi tidak ada perbedaan dalam menakwil mimpi sang raja dan
berusaha menyampaikan kebenaran yang mereka yakini. Namun mereka berbeda dalam
memilih bahasa dan cara menyampaikan.
Dalam kehidupan sehari-hari pesan dari kisah ini sangat penting
diperhatikan. Semua orang atau kelompok setuju, sesuatu yang benar dan baik
harus diupayakan agar muncul di tengah-tengah masyarakat sehingga dapat
menggantikan yang batil. Berbagai cara dan metode diupayakan untuk dipilih yang
terbaik (QS. An-Nahl/16: 125). Memilih cara dan metode terbaik dan terorganisir
dengan harapan agar dampak destruktif dapat terhindarkan.
Mutohharun Jinan, pengajar di Pondok Shabran Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar