Kamis, 03 Desember 2015

MERAWAT ALAM



MERAWAT ALAM
Mutohharun Jinan

Tidak sedikit ayat Alquran yang berbicara tentang sejarah umat manusia yang dikaitkan dengan perusakan di bumi. Melalui pengalaman masa lalu, generasi berikutnya dapat mengambil pelajaran, karena salah satu cara yang diperkenalkan Alquran untuk manusia pada kesadaran lingkungan adalah dengan menimpakan bencana kepada masyarakat agar mereka sadar dan tidak mengulangi kesalahan.
Disebutkan dalam Alquran: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia, sehingga akibatnya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar) (QS. Al-Rum/30: 41).
Alam raya diciptakan Allah dalam tata aturan dan hukum-hukum yang telah ditetapkan, mengandung keserasian dan keselarasan bagi kepentingan manusia. Keserasian itu menciptakan ekosistem sehingga alam raya dapat berjalan sesuai dengan tujuan penciptaannya.
Dalam kaitan tujuan penciptaan alam raya, manusia menempati posisi yang sangat penting, yakni sebagai khalifah Allah. Alam raya dan seisinya diciptakan dan ditundukkan untuk kepentingan umat manusia. “Dia (Allah) menundukkan untuk kamu apa yang ada di langit dan di bumi” (QS. Al-Jatsiyah/45: 13)

Rabu, 18 Maret 2015

MEDIA SOSIAL



Dakwah dan Media Sosial

Hidup di masyarakat berbasis teknologi informasi seperti sekarang ini orang begitu mudah menebar kebajikan, namun juga terbuka peluang menebar keburukan.
Tidak perlu biaya mahal dan mengeluarkan banyak tenaga seseorang bisa mengajak saudara, kerabat, teman, dan kolega untuk selalu berbuat kebaikan. Dengan sedikit pulsa yang masih tersisa di telepon seluler, satu untaian kalimat mutiara yang isnpiratif atau terjemahan ayat Alquran yang memuat seruang kebajikan bisa tersebar ke ratusan teman.
Banyaknya pilihan media sosial seperti web, youtube, blog, facebook, BBM, dan WatsApp memudahkan sekelompok orang, baik yang berdekatan maupun yang berjauhan, berjamaah dalam  satu goup. Dalam grup yang sudah terbentuk setiap anggota bisa saling bersilaturrahim, berbagi kabar kesuksesan, saling menasehati, dan lain-lain. Cukup  dengan menuliskan atau update status sekali saja sudah tersebar dan dapat dibaca oleh banyak orang pada saat itu juga. 

Senin, 08 Desember 2014

MARTABAT GURU




Martabat Guru
Oleh Mutohharun Jinan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “guru” diartikan sebagai orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya atau profesinya) mengajar. Pengertian leksikal ini terkesan sangat simplistik dan sederhana meski juga mengandung kebenaran. Dalam bahasa sehari-hari yang biasa disebut guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Tugas utama guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu kebajikan dan menjadi teladan orang lain dapat juga dianggap seorang guru.Bahkan guru juga dimakna secara impersonal, sebagaimana dalam ungkapan “pengalaman adalah guru terbaik”.

Rabu, 05 November 2014

KEBENARAN DAN KEARIFAN



Kebenaran dan Kearifan
 
Ragam ekspresi keberagamaan telah menjadi bagian penting sejarah perjalanan Islam. Sebagian dari keragaman memperkaya khazanah dan memungkinkan Islam berkembang ke berbagai wilayah dengan konteks budaya yang berbeda-beda. Lebih khusus dalam bidang fikih, ragam pemahaman yang dinisbahkan kepada para ulama terdahulu justru menjadi pilihan bagi kaum muslim di kemudian hari dalam mengamalkan prinsip-prinsip dasar ajaran Islam.

Minggu, 06 April 2014

MEMILIH PEMIMPIN

SELEKTIF MEMILIH PEMIMPIN
Dr. Mutohharun Jinan

Setiap kali hajatan pemilu, para calon pemimpin berlomba kampanye, melakukan sosialisasi, mengenalkan diri, menawarkan program-program kepada umat. Semua dilakukan supaya rakyat atau umat memahami visi dan misinya, mengetahui apa yang akan diperjuangkannya untuk kepentingan umat dengan syarat umat mau memilih mereka agar duduk di kursi perwakilan atau kepemimpinan.
Islam sangat menekankan bahwa memilih pemimpin bukan perkara sederhana. Memilih pemimpin bukan perkara main-main, apalagi asal-asalan sehingga mudah dibelokkan oleh rayuan selembar rupiah, atau terpesona oleh aksi-aksi pencitraan sekejap. Memilih pemimpin berarti menentukan nasib umat di masa depan, memilih pemimpin harus benar-benar selektif. Karena merekalah yang diserahi wewenang untuk mengatur, melayani, dan memerintah umat, serta diikuti perintah-perintahnya.